
Bersamaan dengan peristiwa bersejarah dimana masyarakat Balikpapan menghalang pasukan Belanda yang berusaha masuk melalui pantai Klandasan Ilir, kemudian masyarakat juga merebut kembali sumur Matilda dari tentara Jepang, kini kota dan lautan Balikpapan menjadi saksi bisu sekaligus teman penghantar, yang kerap mengkomunikasikan sebuah dialog kemerderkaan yang abadi untuk selalu menyediakan rumah yang nyaman, dan aman bagi anak, dan cucu dihari mendatang. penting untuk disadari inilah sebuah platform yang diwariskan pendahulu (masyarakat Balikpapan) dimana mereka memikirkan dan memandang lebih jauh tentang masa depan generasinya dan kini cita cita itu di teruskan oleh masyarakat Balikpapan.
Eksplorasi bentuk dan fungsi pada desain ini merupakan bentuk dekonstruksi dari sudut pandang terhadap sebuah monumen. Kami tidak berharap monumen sekedar dinikmati oleh indra penglihatan semata, ataupun menjadi sebuah tempat untuk menghafal sejarah tetapi biarlah monumen itu menjadi ruang komunikasi generasi penerus untuk menyiapkan kota mereka menjadi rumah yang nyaman dan aman.





